Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

A Day in School

That day, In a school in my city, Makassar, I’d just finished my teaching in a class, went out, then the following teacher (my college friend) came in that class and continued teaching the students. This was what we had to do in two months to fulfill one of the requirements of our study in Campus, especially for those who are in Education Department – Doing A Teaching Practice. When I was sitting some meters away from the class, starring at the Teacher teaching inside, I opened my book. I read what haven’t been read yet, imagining… Suddenly a voice flew toward me, seemed to be whispering… “Big brother…” I turned my face, “Oh, hello… come..” I answered. A girl came to me then sat beside me. “Anyways, why don’t you come in to the class?” I was trying to make a talk. “I’m kinda tired, big brother.” She answered. “Oh, I see.” A minute passed by, Silent… (I was in silent, and she was too… I didn’t know what kind of idea I was going to talk about… sort of speechles...

Bertemu Sahabat Lama dan Merayakan Hari Persahabatan

Hai! Namaku Amabel Blossom. Ya, kalian bisa panggil namaku dengan sebutan “Blossom”, “Amel”, “Abel” dan “Bella”. Aku adalah pindahan dari Singapore ke Indonesia. Dulu, aku sempat sekolah dan tinggal di Indonesia, mangkanya aku bisa berbahasa Indonesia. Aku pindah karena orang tua ku harus pindah dari kantor mereka. Penyebabnya adalah kantor mereka yang bangkrut. Sebenarnya aku tak ingin pindah ke Indonesia, tapi ku pikir-pikir, masih ada temanku sekaligus sahabatku dulu yang bernama Nathasya. Hari ini, waktunya aku dan keluargaku pindah ke Indonesia. Kata kedua orang tuaku, aku sekolah di Butterfly School. Sebenarnya aku ragu. Memangnya ada sekolah di Indonesia yang bernama Butterfly School? tanyaku dalam hati. Sekarang adalah hari Selasa, tanggal 12 Febuari, jam tujuh malam. Aku agak tak sabar untuk kembali ke Indonesia. “ATTENTION, passenger aircraft to Indonesia purpose, we invite to get into the plane. And do not forget to give the ticket to the ticket clerk.” Kata...

Harusnya

~ Kau lebih dari sekedar bintang-bintang. Kau lebih dari sekedar sang rembulan ~ Suara Naga Lyla mengalun dari ponselku. Pertanda sebuah pesan baru masuk. Dengan cepat, jemariku meraih ponsel yang ada di sampingku. Besok pas liburan Kita maen ke Jogja, yuk! Pesan dari Arga, tunanganku. Setelah sarjana, kami akan menikah. Saat ini, kami sedang melakukan proses ta’aruf. Arga adalah anak seangkatanku. Tapi, kami berbeda jurusan. Dia memilih jurusan teknologi dan aku jurusan teknik pertanian di ITB ini. Tempat tinggal Arga di Jogyakarta. Jadi, hanya tiap musim liburan dia dapat pulang ke kampung halamannya. Sifatnya yang ramah dan easy going, membuat dia mempunyai banyak teman. terkadang aku merasa beruntung dapat menjadi miliknya. Meski belum seutuhnya. Yahh.. aku memang harus berterima kasih dengan orangtuaku karena telah menjodohkanku dengan Arga. Dan aku berharap, dapat bersatu dengan Arga tuk selamanya. Jari-jariku dengan cepat mengetik balasan untuk Arga. Aku harus ...

Dia.. Dia.. Dia..

22 Agustus 2011… Fiuuuh… darahku seperti tersedot naik ke ubun-ubun. Seluruh syarafku kaku tak bisa kugerakkan. Aku terpaku. Menatapnya yang sedang berdiri 8 meter di depanku. Di seberang jalan. Ada perasaan yang membuat jantung ini berdegup lebih kuat saat melihatnya. Ada senyuman yang merekah saat memandangnya. Walau semua itu hanya terjadi dalam detik-detik yang kurasakan sangat cepat berlalu. Tiba-tiba aku merasa kedinginan. Padahal jam di tanganku menunjukkan pukul 12:32 p.m. Matahari sangat terik menyinari di atas kepalaku. Tapi, aku malah berkeringat dingin. Aku merasa seperti dihujani pecahan-pecahan es tepat di kepalaku. Apa semua ini juga termasuk efek karena menatap, Dia..? 12 September 2011… Jam sudah menunjukkan pukul 14:07 p.m tapi kenapa Dia belum juga terlihat?. Ini baru saja Senin ke-4 ku. Lalu Dia tiba-tiba menghilang. Kemana Dia…?. Sejak 4 minggu yang lalu, aku memiliki kegiatan rutin yang harus dikerjakan. Aku harus menunggu Dia. Menunggu hanya untu...

Angan Tak Sampai

Koridor sekolah nampak ramai. Bagaimana tidak, hari ini adalah pengumuman penerimaan siswa baru. Yup! Papan pengumuman sudah penuh dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Hampir saja ia ditabrak-tabrak puluhan manusia yang notabene tidak punya perasaan sabar. Ia harus menunggu, walaupun menghabiskan beberapa detik dalam pengharapannya. Wajah senang, wajah sedih, wajah penuh bahagia juga wajah kecewa tercetak jelas di antara mereka. Mungkin satu hal pembelajaran baginya adalah, siap gagal dan bersyukur kalau berhasil. Jari telunjuk mungilnya terus menunjuk pada beberapa kertas warna putih yang ditempel pada mading sekolah dengan nama siswa-siswa yang diterima. Sebuah nama yang hanya dimiliki olehnya, Andriyani Reynita. Baru saja ia bersyukur, seseorang menabraknya. Tubuh tinggi menjulang, badan kekar, sebuah lesung pipi di pipi kanannya dan satu hal yang ia ketahui ketika itu adalah, sosok itu ramah. Senyum terbaik disuguhkan begitu saja oleh sang pria. Emosinya ia redam....